Sirah Nabi – Wahyu Kedua, Sebuah Penantian

Wahyu kedua

Wahyu kedua tidak turun serta merta setelah wahyu pertama. Setelah beberapa waktu, baru turun wahyu kedua kepada Rasulullah SAW.

Berkenaan tempoh antara wahyu pertama dan kedua, ulama berbeza pendapat mengenainya. Pendapat yang rajih(kuat) dan tepat ialah beberapa hari sahaja. Ada juga pendapat yang mengatakan lebih kurang 2 atau 3 tahun. Tetapi, tidaklah perlu kita membahas panjang tentang itu, cukup sekadar tahu yang ada penangguhan di antara wahyu pertama dan kedua.

Sesuai dengan buku Membaca Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), selama penantian itu Nabi Muhammad saw. tetap merasa takut dan bimbang, setelah bertemu dengan malaikat Jibril dan menerima wahyu yang pertama. Menurut Quraish Shihab, wahyu memang pernah terhenti turun kepada Nabi Muhammad saw., namun itu tidak dalam jangka waktu yang lama. Tujuannya pun untuk menghilangkan rasa takut yang menyelimuti Nabi Muhammad saw. ketika menerima wahyu pertama dan juga untuk menimbulkan kerinduan akan hadirnya wahyu yang kedua.

Quraish Shihab ‘tidak sependapat’ dengan satu hadits riwayat Bukhari yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. sangat sedih ketika wahyu terhenti sehingga membuatnya berniat untuk bunuh diri.

Setidaknya ada dua alasan ‘ketidaksepakatan’ yang dikemukakan Quraish Shihab atas hadits tersebut:

  • Pertama, dalam riwayat hadits tersebut seolah-olah masa terhentinya wahyu lama sekali. Padahal ada riwayat yang menyebutkan kalau wahyu terhenti hanya beberapa hari saja.
  • Kedua, Imam Bukhari tidak menjelaskan siapa yang menyampaikan informasi dalam hadist tersebut. Sepanjang informasi itu tidak bersumber dari Nabi Muhammad saw. langsung, meskipun dari sahabat, maka informasinya wajar saja kalau diragukan. Bagaimana mungkin seorang Nabi Muhammad saw. yang memiliki kepribadian utuh dan kuat hendak melakukan hal semacam itu?

Turun Wahyu Kedua

Dari Jâbir ibn Abdullah RA, dia berkata: Aku telah mendengar Nabi Muhammad SAW ketika beliau berbicara mengenai terputusnya wahyu, maka katanya dalam pembicaraan itu: “Ketika aku berjalan, aku mendengar suara dari langit. Lalu aku angkat kepalaku, tiba-tiba aku melihat malaikat yang mendatangi aku di gua Hira’ itu duduk di atas kursi antara langit dan bumi, lalu aku pulang dan aku katakan: Selimuti aku! Mereka pun menyelimuti aku . Lalu Allah menurunkan ( يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ) sampai ( وَالرِّجْزَ فَاهْجُرْ ).”

H.R. Bukhari dan Muslim, teks dari Bukhari

Para mufassir umumnya berpendapat Surat Al-Mudatsir yang turun sebagai wahyu kedua.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ | قُمۡ فَأَنذِرۡ | وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ | وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ | وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ

“Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah.” (Q.S. Al-Mudatsir 74: 1-5)

Wallahua’lam

Rujukan – islam.mu.or.id, republika.co

0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat Komen Sebelum Ini