Peristiwa Ar-Raji, Tragedi Sedih

Izuan
Peristiwa Ar-Raji

Peristiwa Ar-Raji terjadi pada bulan Safar tahun keempat Hijrah. Al-Raji ialah sebuah kawasan di kawasan Hijaz.

Islam telah berkembang dengan pesat di Tanah Arab sehingga kepada suku kaum Udhal dan Qaraah. Mereka kemudian meminta Rasulullah menghantar orang untuk mengajar tentang agama Islam dan Quran.

Dengan itu Rasulullah (s.a.w) pun menghantar bersama-sama mereka enam orang, ada riwayat lain yang mengatakan 10 orang sahabat. Antara sahabat yang pergi ialah Mirthad bin Abi Mirthad al-Ghanawi, Asim bin Thabit, Khubaib dan Zaid bin al-Dathnah.

Pembunuhan Sahabat di Ar-Raji

Apabila mereka sampai di tempat bernama al-Raji’, kawasan air qabilah Huzail di sebelah al-Hijaz. Satu qabilah dari Bani Huzail mengepung orang Islam, dikatakan ada lebih kurang 100 orang pemanah. Qabilah ini dikenali sebagai Banu Lahyan. Umat Islam tidak sempat melarikan diri.

Lalu mereka menyerang para sahabat hingga berhasil membunuh ‘Ashim bersama tujuh lainnya, tinggal tersisa Khubaib, Zaid dan seorang sahabat lagi. Lalu mereka membuat tawaran dengan mereka jika bersedia untuk turun dan menyerahkan diri. Tatkala pasukan tersebut telah menawan tiga utusan Nabi, mereka memudar tali anak panah mereka untuk mengikat tawanan mereka dengan tali itu, tiba-tiba lelaki yang ketiga berkata, “Ini adalah pengkhinatan pertama, demi Allah aku tidak akan menjadi teman kalian, ” lalu mereka menyeretnya, namun ia tetap memberontak, akhirnya mereka membunuhnya dan mereka pergi dengan membawa Khubaib dan Zaid hingga mereka menjualnya di Makkah.

Anak kepada al-Harith bin ‘Amir bin Naufal lalu membeli Khubaib. Khubaib adalah orang yang telah membunuh Al-Harith ketika Perang Badar. Khubaib menjadi tawanan bagi mereka hingga mereka sepakat untuk membunuhnya.

Ketika dalam tawanan Khubaib pernah dilihat memakan anggur, padahal di Makkah tidak ada buah anggur, tidaklah hal itu melainkan rezeki yang Allah berikan kepada Khubaib.

Lalu mereka membawa Khubaib keluar dari Haram untuk membunuhnya. Khubaib berkata, ” “Berikanlah kesempatan kepadaku untuk mengerjakan (shalat) dua raka’at!” Setelah itu Khubaib kembali kepada mereka dan berkata, “Sekiranya aku tidak kuwatir kalian menganggapku takut dari kematian, niscaya aku akan menambah bilangan raka’atku.” Dan dialah orang yang pertama kali melakukan shalat dua raka’at sebelum menghadapi kematian, kemudian ia berkata, “Ya Allah hitunglah jumlah mereka, ” kemudian dia melanjutkan; “Aku tak peduli bila terbunuh sebagai seorang muslim, di bagian manapun hanya untuk Allah kematianku, yang demikian bagi Sang Ilah, jika Dia berkehendak akan memberkahi semua persendian jasad yang terpisah.” Lalu berdirilah ‘Uqbah bin Al Harits dan membunuhnya.

Orang-orang Quraisy kemudian mengutus utusan kepada Asim untuk mendapatkan sebagian jasadnya sebagai bukti, sebab ia telah membunuh sebagian besar dari para pembesar mereka pada perang Badar, ternyata Allah mengutus sekumpulan tebuan yang menyerupai semacam gulungan debu menyebabkan mereka tidak berhasil mengambil sedikitpun dari jasad Khubaib.

Wallahua’lam

Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest
Inline Feedbacks
Lihat Komen Sebelum Ini