Mesyuarat Darun Nadwah

Izuan
darun nadwah

Mesyuarat di Darun Nadwah diadakan setelah Perjanjian Aqabah Kedua. Tujuan mesyuarat ini ialah untuk menghalang penghijrahan Rasulullah ke Madinah kerana jika itu terjadi, maka kekuatan orang Islam akan semakin kukuh dan mengancam mereka.

Kerisauan Musyrikin Makkah

Bila mana pihak Musyrikin Quraisy mendapati pengikut-pengikut Muhammad (s.a.w) telah bersedia dan keluar dengan membawa bersama-sama mereka keluarga, anak-anak dan harta-harta mereka ke pangkuan al-Aws dan al-Khazraj.

Terjadilah kekecohan di kalangan kafir Makkah, mereka mula meramal apa yang akan terjadi pada masa akan datang, bahaya besar yang sedang menunggu mereka; yang kelak akan mengugut dan menggugat kestabilan ekonomi, kekayaan dan entiti idealogi berhala mereka.

Sebenarnya mereka sudah mengenal pasti potensi yang luar biasa jika terjadinya hijrah Rasulullah ini. Melihat kepada keperibadian unggul Muhammad (s.a.w) dan dengan kepimpinannya yang berkesan lagi mempengaruhi, di samping keazaman yang tekad, keiltizaman yang utuh dan semangat pengorbanan yang luar biasa, disokong pula oleh kekuatan dan daya pertahanan oleh al-Aws dan al-Khazraj.

Diperkayakan pula oleh kekuatan cendikiawan dan ahli fikiran kedua qabilah yang memiliki kedewasaan berfikir untuk kesejahteraan dan keimanan bersama, serta sanggup menolak dendam kesumat lama yang pernah memusuhi mereka,

Untuk itu Musyrikin Makkah harus membuat perhitungan yang paling bijak dan tepat bagi mengatasi ancaman sebelum terlambat, pada hemat mereka.

Mesyuarat Darun Nadwah Berlangsung

Pada pagi 26 Safar tahun ke 13-kerasulan, pihak Quraisy telah mengadakan mesyuarat di Dar an-Nadwah. Kejadian ini berlaku hampir dua bulan setengah setelah Perjanjian Aqabah Kedua. Hampir kesemua kabilah-kabilah Quraisy menghantar perwakilannya untuk membincangkan cara terbaik untuk menghentikan perkembangan Islam dengan sepenuhnya.

Antara perwakilan yang mempunyai peranan besar ialah: Abu Jahal, Jubair bin Mut’im, Syaibah dan Utbah, Nadr ibn al-Harith dan Umaiyah bin Khalaf.

 Sebelum musyawarah dimulai, Iblis menyerupai bentuk seorang lelaki tua berjubah yang terlihat berwibawa sedang berdiri di pintu Darun Nadwah.

Seorang anggota forum yang datang bertanya kepada laki-laki tua tersebut, “Siapakah engkau?” Lalu Ia menjawab, “Saya berasal dari Najd karena mendengar berita musyawarah kalian untuk mencegah Rasulullah SAW. Aku ingin turut serta dalam musyawarah, mudah-mudahan kalian tidak mengabaikan pendapatku.” Lalu orang Quraisy tersebut menjawab, “Tentu saja tidak, silakan masuk.”

Mesyuarat pun dimulai. Setiap perwakilan kabilah mulai mempersiapkan pendapatnya masing-masing. Salah satu peserta msuyarawah ada yang menyampaikan usulnya, “Bagaimana kalau kita memenjarakannya dalam kurungan besi sampai ajal menjemputnya seperti seorang penyair Zuhair an-Nabighah sebelumnya?”

Mendengar pendapat tersebut, orang tua dari Najd menjawab, “Tidak, itu bukan keputusan yang tepat. Apabila kalian memenjarakannya perintahnya akan sampai kepada para sahabat di balik jeriji besi itu lalu mereka akan menyerang kalian dan jumlah mereka akan bertambah banyak, cuba cara lain!”

Musyawarah pun dilanjutkan, tidak lama kemudian seseorang laki-laki lain mengusulkan, “Bagaimana kalau kita usir Muhammad dari negeri ini, sehingga kita dapat bersatu kembali tanpa memperdulikan kemana ia akan pergi dan apa yang menimpanya.

Orang tua dari Najd itu pun menolak lagi dan berkata, “Tidak, itu bukan keputusan yang baik. Tidakkah kalian lihat ucapan dan tutur manisnya serta kemampuannya memikat orang? Beliau akan masuk ke perkampungan dan pedalaman Arab yang lain, lalu berhasil menaklukkan mereka sehingga pengikutnya akan bertambah banyak? Setelah itu mereka bergerak ke tempat kalian lalu menguasai negeri kalian dan mengendalikan segala urusan kalian? Carilah cara lain!”

Akhirnya Abu Jahal bersuara, bagaimana kalau kita ambil seorang pemuda perkasa dari kalangan bangsawan yang paling mulia dari setiap kabilah. Kita beri masing-masing pemuda itu sebilah pedang, setelah itu mereka menetak Nabi Muhammad sampai tewas. Lalu kita bisa tenang, sebab diyat pembunuhannya menyebar di semua kabilah dan Bani Abd Manaf tidak akan mampu memerangi semua kabilah. Akhirnya mereka akan ridha dengan diyat lalu kita bayar diyat itu kepada Bani Abd Manaf.”

Orang tua dari Najd menyetujui usul tersebut dan berkata, “Ini usul yang terbaik!” Semua peserta musyawarah di Darun Nadwah itu pun menyetujui usulan tersebut. Usulan gila dari pakcik nabi sendiri, Abu Jahal, yang sanggup merencanakan pembunuhan untuk anak saudaranya sendiri.

Wallahu a’lam.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Oldest
Newest
Inline Feedbacks
Lihat Komen Sebelum Ini