Kisah Ashabul Ukhdud

kisah ashabul ukhdud

Siapa Ashabul Ukhdud?

Kisah Ashabul Ukhdud adalah kisah tentang sebuah golongan yang mempertahankan keimanan daripada pemerintah yang zalim. Pemerintah ini menggali parit dan menghumbankan rakyatnya yang beriman ke dalam parit yang berapi.

Watak penting dalam kisah ini ialah seorang pemuda, raja yang zalim, rahib dan tukang sihir. Nama pemuda Ashabul Ukhdud tidak diketahui.

Di sini saya letakkan Kisah Ashabul Ukhdud berdasarkan Tafsir Ibnu Kathir, jom hayati sama-sama.

Ashabul Ukhdud Dalam Quran

قُتِلَ أَصْحَابُ الأخدُود

Telah dibinasakan “orang-orang yang membuat parit,” (Surah al-Buruj : 4)

Yakni terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. Golonngan pembuat parit merujuk kepada satu kaum dari orang-orang kafir yang mengintimidasi orang beriman kepada Allah yang hidup di kalangan mereka. Mereka memaksa dan menghendaki agar mereka kembali kepada agama mereka, namun orang-orang mukmin itu menolak ajakan itu, sehingga mereka membuatkan sebuah parit untuk mereka, di dalam parit itu mereka menyalakan api dan menyiapkan bagi mereka bahan bakar agar api itu tetap menyala.

Kemudian mereka berkeras meminta orang-orang yang beriman kembali kepada mereka, tetapi orang-orang mukmin itu menolak, sehingga mereka dilemparkan ke dalam parit tersebut.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman:

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأَخْدُودِ النَّارِ ذَاتِ الْوَقُود. إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ. وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ

“Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk disekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman.”

Pemuda, Tukang Sihir dan Rahib

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Shuhaib, bahwa Rasulullah bersabda: “Di antara ummat-ummat sebelum kalian terdapat seorang raja yang memiliki seorang tukang sihir. Setelah usianya semakin tua, tukang sihir itu berkata kepada raja tersebut: ‘Sesungguhnya usiaku sudah semakin tua dan ajalku akan segera tiba, karenanya berikan kepadaku seorang pemuda untuk aku ajari ilmu sihir.’ Maka raja itu pun menyerahkan kepadanya seorang pemuda, yang kemudian dia ajari ilmu sihir.

Antara tukang sihir dan raja itu terdapat seorang rahib. Lalu pemuda itu mendatangi si rahib itu dan mendengar ucapannya. Dia berasa kagum oleh gaya bahasa dan ungkapannya, sehingga menyebabkan dia terlewat ke tempat lain. Jika dia mendatangi tukang sihir maka dia dipukul dan ditanya: ‘Apa yang membuatmu lewat’ Dan jika mendatangi keluarganya, maka mereka memukulnya seraya berkata: ‘Apa yang membuatmu lewat?’

Kemudian dia mengeluhkan hal tersebut kepada rahib tersebut. Maka rahib itu berkata: Jika ada tukang sihir hendak memukulmu, maka katakan: ‘Keluargaku telah membuat aku lewat,’ dan jika keluargamu hendak memukulmu, maka katakan kepada mereka, “Tukang sihir telah membuat aku lewat.’

Pemuda Bertemu Binatang Liar

Lebih lanjut, beliau menceritakan: “Suatu hari, pemuda itu terjumpa seekor binatang yang mengerikan lagi besar yang telah menahan orang ramai sehingga mereka tidak dapat melewati jalan. Lalu dia mengatakan: ‘Pada hari ini aku mengetahui, apakah perintah si rahib yang lebih dicintai Allah atau perintah tukang sihir.’ Kemudian dia mengambil batu dan berkata: ‘Ya Allah, jika perintah rahib itu lebih Engkau sukai dan ridhai daripada perintah tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang dapat melewati jalan.’ Selanjutnya dia melemparnya dengan batu, kemudian binatang itu mati dan orang-orang dapat berlalu.

Pemuda Yang Mampu Mengubati

Kemudian, dia ceritakan hal itu kepada sang rahib, dan dia mengatakan: ‘Hai anakku, engkau lebih baik daripada diriku dan engkau akan diuji, hendaklah engkau tidak melaporkan tentangku.’ Dan anak itu dapat mengobati orang yang terkena penyakit sopak, lepra, berbagai macam penyakit lainnya, dan dapat menyembuhkan mereka.

Raja tersebut mempunyai seorang pembantu yang buta. Dia mendengar berita tentang pemuda tersebut. Maka dia pun mendatanginya dengan membawa hadiah yang cukup banyak seraya berkata: ‘Sembuhkanlah diriku, dan engkau akan mendapatkan semua yang ada di sini.’ Dia pun menjawab: ‘Aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun, sebenarnya yang menyembuhkan itu adalah Allah Yang Mahamulia lagi Mahaperkasa. Jika engkau beriman kepada- nya, maka aku akan berdoa kepadanya sehingga Dia pun akan menyembuhkanmu.’ Maka orang itu pun beriman, kemudian pemuda itu mendo’akannya, lalu Allah pun memberikan kesembuhan kepadanya.

Perbualan Raja dan Pembantunya

Setelah itu orang tersebut mendatangi sang raja, dia duduk di dekatnya sebagaimana biasa dia lakukan.

Sang raja berkata kepadanya: ‘Hai fulan, siapa yang telah mengembalikan pandanganmu itu?’ ‘Rabb-ku,’ jawabnya.

‘Aku,’ tegas raja tersebut,

Pembantunya itu menjawab: “Tidak, Rabb-ku dan juga Rabb-mu.’

‘Apakah engkau mempunyai Rabb selain diriku?’ tanya raja itu.

Dia pun menjawab: ‘Rabb-ku dan juga Rabb-mu adalah Allah.’

Kemudian pembantunya itu disiksa tiada henti-hentinya hingga akhirnya dia memberitahu tentang keberadaan sang pemuda, dibawanya sang pemuda itu kepada si raja.

Pemuda Bertemu Raja

Raja itu berkata: Telah sampai berita kepadaku bahwa sihirmu dapat menyembuhkan penyakit sopak, lepra dan berbagai macam penyakit lainnya.’ Sang pemuda itu menjawab: ‘Aku tidak dapat menyembuhkan penyakit, hanya Allah saja yang dapat menyembuhkan penyakit.’ Si raja berkata: ‘Aku!’ Sang pemuda menjawab: ‘Tidak!’ Raja itu bertanya: ‘Apakah ada Rabb selainku?’ Sang pemuda menjawab: ‘Rabb-ku dan Rabb-mu adalah Allah.’ Maka disiksalah pemuda itu hingga akhirnya ia memberitahu tentang keberadaan sang rahib.

Lalu rahib itu dibawa menghadap raja itu, dan raja itu berkata: “Tinggalkan agamamu.’ Tetapi rahib itu menolak melakukannya. Maka raja itu meletakkan gergaji di tengah-tengah kepalanya sehingga membelah badannya menjadi dua. Lalu dia berkata kepada orang yang buta tadi: ‘Tinggalkanlah agamamu.’ Tetapi dia menolak meninggalkan agamanya sehingga raja itu meletakkan gergaji di tengah-tengah kepalanya sehingga membelah badannya menjadi dua pula. Kemudian raja itu berkata kepada pemuda itu: ‘Tinggalkanlah agamamu. Namun pemuda itu tetap menolak.

Pemuda Diuji Keimanan

1. Dibawa ke gunung

Selanjutnya, raja itu mengutus beberapa orang untuk membawanya ke sebuah gunung, seraya mengatakan: ‘Jika kalian telah sampai di puncaknya, jika dia mau meninggalkan agamanya maka biarkanlah dia dan jika tidak mau maka gulingkanlah dia.’ Maka mereka pun pergi membawanya. Dan ketika mereka sampai di ketinggian gunung, maka pemuda itu berdo’a: ‘Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka sesuai dengan kehendak-Mu.’

Kemudian gunung itu pun berguncang yang membuat mereka terguncang hingga akhirnya mereka semua terguling. Kemudian pemuda itu datang lagi seraya mencari-cari jalan hingga akhirnya masuk menemui sang raja, maka raja itu bertanya: ‘Apa yang telah terjadi pada orang-orang yang mengawalmu?’ Dia menjawab: ‘Allah Ta’ala telah menyelamatkan diriku dari mereka.’

2. Dibawa ke tengah lautan

Selanjutnya, raja itu mengutus beberapa orang dan berkata: Jika kalian sudah sampai di tengah lautan, jika dia mau meninggalkan agamanya maka biarkanlah dia, dan jika tidak maka tenggelamkan saja dia.’ Dan pada saat mereka sampai di tengah lautan, pemuda itu berdo’a: ‘Ya Allah, selamatkan aku dari mereka sesuai dengan kehendak-Mu.’

Maka mereka semua pun teng- gelam. Selanjutnya pemuda itu datang lagi dan menemui sang raja, lalu raja itu juga bertanya lagi: ‘Apa yang telah terjadi dengan orang-orang yang mengawalmu?’ Dia menjawab: ‘Allah Ta’ala telah menyelamatkan diriku dari mereka.

Pemuda Dibunuh

Lebih lanjut, pemuda itu berkata: ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sehingga engkau mengerjakan apa yang aku perintahkan kepadamu. Jika engkau mengerjakan apa yang aku perintahkan kepadamu, barulah engkau bisa membunuhku, jika tidak, engkau tidak akan pernah dapat membunuhku.’ Raja itu pun bertanya: ‘Apa itu?’ Dia menjawab: ‘Engkau harus mengumpulkan orang-orang di suatu tanah lapang, lalu engkau menyalib diriku di batang pohon, lalu engkau ambil panah dari tas milikku, kemudian ucapkan: ‘Dengan menyebut Nama Allah, Rabb pemuda itu.’ Jika engkau telah melakukan hal tersebut, maka engkau akan dapat membunuhku.’

Kemudian raja itu pun melakukan hal tersebut dan meletakkan anak panah di busur miliknya dan kemudian dia melemparkannya seraya berucap: ‘Dengan menyebut Nama Allah, Rabb pemuda itu,’ maka anak panah itu pun meluncur tepat mengenai pelipisnya. Selanjutnya, pemuda itu meletakkan tangannya pada bagian yang terkena panah tersebut dan kemudian wafat.

Raja Membuat Parit

Maka orang-orang pun berkata: ‘Kami beriman kepada Rabb pemuda itu.’ Lalu dikatakan kepada raja tersebut: ‘Bagaimana pendapatmu melihat apa yang selama ini engkau hindari? Demi Allah, sesungguhnya hal itu telah terjadi. Semua orang telah beriman kepada Allah.’ Setelah itu, raja tersebut memerintahkan prajuritnya agar menyiapkan peralatan galian untuk membuat parit-parit dan menyalakan api di dalamnya seraya berkata: ‘Barangsiapa mau meninggalkan agamanya, maka biarkan mereka tetap hidup dan jika tidak lemparkan mereka ke dalam parit tersebut.’

Mereka saling tarik-menarik dan saling dorong-mendorong hingga akhirnya datang seorang wanita dengan menggendong bayinya yang masih disusuinya, seakan-akan dia takut terperosok ke dalam api. Maka bayinya berkata: ‘Bersabarlah wahai ibuku. Sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran”.(HR. Muslim no. 3005)

Demikianlah hadis Ashabul Ukhdud yang diriwayatkan oleh Muslim di akhir kitab Shahihnya. Dan juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i.

Semoga kita dapat pengajaran dan pelajaran daripada kisah Ashabul Ukhdud.

Wallahua’lam

Similar Posts

0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat Komen Sebelum Ini