Abu Bakar Sebelum Masuk Islam
Abu Bakar lahir dan membesar di tengah bangsa Quraisy di kota Makkah. Abu Bakar merupakan keturunan yang terhormat dari qabilah Bani Tamim. Sebelum masuk Islam, Abu Bakar al-Siddiq sangat dikenal dengan sosok yang jujur, berakhlak yang baik dan jauh dari kebiasaan buruk kaum jahiliyah seperti gemar bermain wanita dan minum-minuman keras.
Abu Bakar al-Siddiq bukanlah berasal dari keluarga yang miskin. Akan tetapi sebaliknya, ia berasal dari keluarga yang kaya raya. Sebab profesi keluarganya adalah berdagang, sehingga profesi ini mendarah daging bagi Abu Bakar al-Shiddiq. Banyak tempat dagang yang telah ia kunjungi, di antaranya ketika musim panas ke Syam dan musim dingin ke Yaman. Dalam berdagang Abu Bakar al-Siddiq sangat terkenal dengan kejujuran dan keramahannya. Sehingga hal ini menjadikan ia seorang saudagar yang terhormat di antara pedagang lainnya di bangsa Quraisy.
Dalam Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam menjelaskan bahawa Abu Bakar al-Shiddiq merupakan sosok yang sangat lembut dan santun terhadap kaumnya, mudah suka kepada orang lain, seorang pedagang ulung yang memiliki akhlak yang istimewa, ia sering didatangi oleh para pemimpin kaumnya untuk meminta berbagai pendapat dikarenakan ilmunya yang luas, pengalaman berdagangnya yang mapan, kedudukannya yang tinggi ditengah kaum dan penghormatannya yang tinggi kepada orang lain.
Begitulah ringkasan dari kehidupan Abu Bakar sebelum masuk Islam. Meskipun belum diturunkannya ajaran Islam seolah-olah ia telah mengamalkan ajaran tersebut dengan benar. Ia sangat terhindar dari kejelekan akhlak bangsa Quraisy yang jahiliyah dari segi kepercayaan dan peradaban.
Ketika risalah Islam datang dengan mudah ia menerimanya sehingga ia menjadi laki-laki pertama yang masuk ke dalam ajaran. Bukan sekadar itu, dengan segala usaha dan upayanya dia menjadi salah satu tunjang dakwah Rasulullah SAW.
Selepas Masuk Islam
Sebagaimana yang disebutkan di atas bahwa Abu Bakar al-Shiddiq merupakan seorang sosok yang terjaga dari keterpurukan akhlak bangsa Jahiliyah. Seolah ia telah memeluk ajaran Islam meskipun ajaran itu belum diturunkan. Ia tidak ikut ataupun larut dengan kejelekan moral bangsa Quraisy meskipun ia merupakan seorang pembesar dari salah satu qabilah terhormat di antara mereka.
Setelah masuk Islam, Abu Bakar al-Shiddiq senantiasa menemani Rasulullah SAW dalam setiap dakwahnya. Ia tidak segan-segan untuk mengeluarkan hartanya untuk menyebarkan agama Allah.
Kedekatan Abu Bakar al-Siddiq dengan Rasulullah SAW digambarkan dalam sebuah hadis:
ÙÙÙ٠» ŰčÙÙÙ Ű§ŰšÙÙÙ ŰčÙŰšÙÙŰ§ŰłÙ – Ű±Ű¶Ù Ű§ÙÙÙ ŰčÙÙÙ Ű§ – ŰčÙÙÙ Ű§ÙÙÙÙŰšÙÙÙÙ – Ű”ÙÙ Ű§ÙÙÙ ŰčÙÙÙ ÙŰłÙÙ – ÙÙۧÙÙ Ű±ÙŰ§Ù Ű§Ùۚ۟ۧ۱Ù) 24 )« ÙÙÙÙŰȘÙ Ù ÙŰȘÙÙŰźÙ۰Ùۧ Ù ÙÙÙ ŰŁÙÙ ÙÙŰȘÙÙ ŰźÙÙÙÙÙŰ§Ù ÙۧÙŰȘÙÙŰźÙ۰ÙŰȘÙ Ű ŰŁÙŰšÙۧ ŰšÙÙÙŰ±Ù ÙÙÙÙÙÙÙÙ ŰŁÙŰźÙÙ ÙÙŰ”ÙۧŰÙŰšÙÙ
Artinya, âDari Ibnu Abbas ra dari Rasulullah SAW ia pernah bersabda, âJika seandainya aku dibolehkan untuk mengambil teman dekat dari ummatku maka sungguh aku akan memilih Abu Bakar. Akan tetapi ia adalah saudara dan juga sahabatku.â (HR. Bukhari)
Sebagai seorang pembantu dakwah Rasulullah, Abu Bakar al-Siddiq juga giat melakukan aktiviti dakwah. Abu Bakar al-Siddiq mengarahkan dakwahnya kepada dua kelompok, yaitu:
- Kelompok Quraisy yang memiliki fitrah yang bersih, pikiran yang lurus dan tidak terpengaruh dengan kebobrokan akhlak dan akidah jahiliyah.
- Kelompok fakir miskin dikalangan hamba sahaya dan orang-orang yang terzalimi dari kalangan non Quraisy.
Abu Bakar al-Siddiq juga tidak segan-segan untuk mengeluarkan harta yang ia miliki untuk membantu dakwah Rasulullah SAW.
ŰčÙ ŰčÙÙ ÙŰ±Ù ŰšÙÙÙ Ű§ÙÙŰźÙŰ·ÙÙŰ§ŰšÙ ÙÙÙÙÙÙÙ ŰŁÙÙ Ù۱ÙÙÙۧ ۱ÙŰłÙÙÙÙ Ű§ÙÙÙÙÙÙ – Ű”ÙÙ Ű§ÙÙÙ ŰčÙÙÙ ÙŰłÙÙ - ŰŁÙÙÙ ÙÙŰȘÙŰ”ÙŰŻÙÙÙÙ ÙÙÙÙۧÙÙÙÙ Ű°ÙÙÙÙÙ ŰčÙÙÙŰŻÙÙ Ù ÙۧÙŰ§Ù ÙÙÙÙÙÙŰȘÙ Ű§ÙÙÙÙÙÙÙ Ù ŰŁÙŰłÙŰšÙÙÙ ŰŁÙŰšÙۧ ŰšÙÙÙŰ±Ù Ű„ÙÙÙ ŰłÙŰšÙÙÙŰȘÙÙÙ ÙÙÙÙÙ Ùۧ ÙÙۧÙÙ ÙÙŰŹÙŰŠÙŰȘÙ ŰšÙÙÙŰ”ÙÙÙ Ù ÙŰ§Ù Ù ÙÙÙÙŰȘÙ Ù ÙŰ«ÙÙÙÙÙ ÙÙŰŁÙŰȘÙÙ ŰŁÙŰšÙÙ ŰšÙÙÙŰ±Ù .« Ù Ùۧ ŰŁÙŰšÙÙÙÙÙŰȘÙ ÙŰŁÙÙÙÙÙÙ٠» – ÙÙÙÙۧÙÙ Ű±ÙŰłÙÙÙÙ Ű§ÙÙÙÙÙÙ – Ű”ÙÙ Ű§ÙÙÙ ŰčÙÙÙ ÙŰłÙÙ ÙÙۧÙÙ ŰŁÙŰšÙÙÙÙÙŰȘÙ ÙÙÙÙÙ Ù Ű§ÙÙÙÙÙÙ ÙÙ۱ÙŰłÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙŰȘÙ ÙÙۧÙÙÙÙÙÙ .« ÙÙۧ ŰŁÙŰšÙۧ ŰšÙÙÙŰ±Ù Ù Ùۧ ŰŁÙŰšÙÙÙÙÙŰȘÙ ÙŰŁÙÙÙÙÙÙ٠» ŰšÙÙÙÙÙÙ Ù Ùۧ ŰčÙÙÙŰŻÙÙÙ ÙÙÙÙۧÙÙ ÙŰ§Ù ŰŁÙŰłÙŰšÙÙÙÙÙ Ű„ÙÙÙÙ ŰŽÙÙÙŰĄÙ ŰŁÙŰšÙŰŻÙۧ (۱ÙŰ§Ù Ű§ÙŰȘŰ±Ù Ű°Ù)
Ertinya: âDari Umar bin Khattab RA ia berkata bahwa Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun melaksanakannya. Umar berkata: âSemoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakarâ. Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullah SAW bertanya: âWahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?â. Kujawab: âSemisal dengan iniâ. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah SAW lalu bertanya: âWahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?â. Abu Bakar menjawab: âKu tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nyaâ. Umar berkata: âDemi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanyaâ (HR. Tarmidzi)
Pada suatu ketika, pernah Abu Bakar dinasehati oleh ayahnya agar memerdekakan hamba-hamba yang kuat yang dapat menjadi pelindungnya. Dengan tegas Abu Bakar menjawab dengan mengatakatan, Sesungguhnya yang aku lakukan adalah apa yang diinginkan oleh Allah.
Berkat perjuangan dan pengorbanan yang ia berikan, ia berhasil meng-Islamkan beberapa orang sahabat yang dijanjikan surga. Mereka adalah Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa`ad bin Abi Waqash, dan Abdurrahman bin Auf.
Wallahua’lam
